Kampung Bukit Puteh ditinggalkan dalam senyap
selepas pemerintahan Jepun berakhir, hanya
tinggal reruntuhan bangunan getah dan jalan
tanah yang bercabang seperti luka. Peta baru
FELDA digambarkan di atas kertas kusam,
menghapus namanama kampung lama—kecuali satu:
Kampung Seri Aman, yang masih tertulis di bawah
batu nisan ibu lelaki itu.
Dia kembali sebagai pelajar kerajaan yang gagal
memegang jawatan, wajahnya tak lagi sama dengan
bayangan zaman remaja. Tapi ketika membuka peti
kayu di belakang rumah bambu, terdapat sebuah
topi kepala berlapis tanah, bersama surat berair
dari ibunya yang sudah mati lima tahun lalu:
“Anakku, janji yang engkau ucapkan di bawah
bulan pujaan darah, kini menjadi beban dunia.”
Dalam kampung itu, adat tak lagi mengikat
melalui perkahwinan, tapi melalui darah—dan
sumpah yang dilafazkan di atas bumi sebelum
matahari tenggelam tak boleh dibatalkan, bahkan
jika yang bersumpah sudah tiada. Dia ingat:
waktu itu, dia berusia 17 tahun, dan dia
berjanji untuk tidak mencintai perempuan yang
bukan dari kaumnya, meskipun mereka telah tumbuh
bersama di sekolah asrama.
Pada malam pertama, tanah di depan rumahnya
bergetar. Kotoran darah muncul dari celah tanah,
membentuk tulisan dalam bahasa Melayu purba:
“Kami tunggu.” Lelaki itu tahu—ada yang
merasakan janji itu belum selesai.
Tiga hari kemudian, anak perempuan seorang tokoh
adat datang membawa tali kain merah, menyatakan
dirinya sebagai pewaris sumpah darah yang dikira
mati. Di hadapan semua orang, dia meletakkan
tangan di atas tanah dan berkata, “Aku kembali
untuk menuntut apa yang ditakdirkan.”
Hari keempat, dua keluarga bertemu di halaman
masjid. Waktu itu, ada peraturan baru: sesiapa
yang menyangkal sumpah darah akan dipantau oleh
siling kampung—sebuah sistem rahsia yang
berfungsi melalui penglihatan hantu pada waktu
tidur. Ia bukan mistik semata; orang yang
dicatat akan mulai melihat bayangan dirinya
sendiri berbicara dalam suara orang lain.
Lelaki itu berdiri di tengah. Tanpa kata, dia
membuka topi kepala, membiarkan tanah yang
tersembunyi di bawahnya terbuka—darah tua yang
masih segar. Di bawahnya, sepotong cincin
tembaga bertulis nama mereka berdua, yang
disimpan oleh ibunya sebagai bukti janji.
Di saat itu juga, tanah berhenti bergetar.
Bayangan di udara lenyap. Dan untuk pertama
kalinya dalam 30 tahun, kampung itu bernapas
lega.
Kemudian, dia pergi. Tidak meninggalkan alamat.
Tidak memberi surat. Hanya meninggalkan cincin
di atas altar kayu, bersama kutipan dari kitab
yang tidak pernah dia baca: “Janji yang sejati
tidak perlu diucapkan. Ia hidup dalam tanah yang
tak rela dilupakan.”


