Kampung Sungai Raya dulu hanya berputar mengikut

musim tanam dan bulan penuh, tetapi sejak Jepun

pergi dan darurat usai, tanah itu mulai menahan

nafas. Orang tua bercerita tentang sumpah

keramat yang dilafazkan di tepi sungai pada 1948

— sumpah yang memecah silaturahim antara

keluarga besar Tanjong, satusatunya yang mampu

menghalang darurat menyebar ke kawasan itu.

Sumpah itu tidak dikatakan mati; ia hidup dalam

air, dalam angin, dalam tangisan anakanak yang

lahir dengan lidah berdarah.

Pada tahun 1963, lelaki bernama Haji Azlan,

bekas penjaga kampung yang hilang selama dua

dekad, kembali. Ia datang bukan sebagai pejuang,

tapi sebagai tanda bahawa masa telah kembali

untuk membayar. Kepalanya dipenuhi luka dalam:

satu di dahi, satu di hati. Dari hari pertama,

dia dilihat tidak lagi seperti manusia biasa.

Mata kirinya berair tanpa sebab. Tiap kali

melewati sungai, aliran air berpusing

bertentangan arah.

Pada malam pertama, empat orang anak muda yang

bekerja di FELDA kembali dengan badan rusuh,

muka pucat, menjerit dalam bahasa campur: “Dia

ada di bawah!” Mereka diselamatkan, tapi semua

dokumen kerja mereka hangus terbakar dalam peti

besi, seperti disentuh api yang tak tampak. Ini

bukan kecelakaan. Ini adalah hukum.

Haji Azlan tidak bercakap. Dia hanya memandang

ke sungai, lalu menarik sebuah batu dari dasar

yang sebelumnya tak pernah ada. Di atasnya,

ukiran sumpah keramat—yang pernah dibaca oleh

ayahnya—muncul kembali, terlapis lumpur dan

ikanikan bercahaya. Ia menyatakan: “Siapa yang

mencabut janji, akan kehilangan nyawa lebih awal

daripada waktu.”

Pada malam ketujuh, anak sulung keluarga Tanjong

— gadis yang sudah dinikahkan secara kontrak

kepada pemimpin baru kampung—terguling dari kayu

panjang di tengah pasar malam. Badannya tidak

berdarah, tetapi rambutnya berubah menjadi hitam

kering, seperti daun kering di musim kemarau.

Orangorang berbisik: “Sumpah itu kembali

menjemput.”

Azlan tidak bergerak. Dia berdiri di tepi sungai,

tangan terbuka. Air mengalir ke atas, membanjiri

kaki kampung. Dalam pantulan cahaya bulan,

wajahnya dilihat bersama bayangan lain — lima

lelaki yang mati dalam bentuk sama, berdiri di

belakangnya. Mereka bukan hantu. Mereka adalah

namanama yang pernah ditebus, namun tidak

dilengkapi.

Di pagi hari, sungai kembali tenang. Tidak ada

mayat. Tidak ada jeritan. Tapi semua penduduk

kampung mengejutkan: semalam, mereka semua

menulis nama sendiri di sehelai kertas, lalu

melemparkannya ke sungai. Dan semalam, mereka

tidak ingat melakukan itu.

Haji Azlan hilang. Tidak ada jejak. Tidak ada

pengajaran. Hanya satu gambar di rumahnya:

seorang budak kecil berdiri di bawah pokok getah,

memegang sebuah buku yang bertulis “Jika kamu

ingin hidup, jangan percaya pada apa yang

disumpah.”

Kampung Sungai Raya kini diam. Tapi sesetengah

malam, jika kau mendekati sungai, kau akan

dengar suara berulangulang: “Aku sudah kembali.”