Kampung Pulau Sembilan, 1952. Tanah yang dulu
subur kini dipenuhi tandatanda pemandu baru:
jalan tanah berlumpur berubah menjadi batu bata
retak, rumah kayu runtuh diganti dengan pondok
sementara yang ditinggalkan. Di tengah desa,
sebuah kubur kuno tersembunyi di bawah akar
pokok getah, tempat semua warga lari dari
perbualan tentang ‘kemalangan’ yang berulang
setiap tahun pada bulan Ramadan.
Lelaki itu muncul tanpa ingatan, hanya memakai
baju lapuk dan jam tangan besi yang berdetik dua
kali lebih cepat daripada waktu biasa. Dia bukan
penduduk. Tidak ada nama. Tapi semua orang tahu
dia adalah Penjaga Rahsia — anak lelaki yang
dikirim pulang untuk menjaga Warisan, sesuatu
yang tidak boleh disentuh oleh tangan siapa pun
selain keluarga penerus.
Aturan sudah berubah: tiap orang yang menyentuh
kubur akan hilang ingatan dalam masa empat hari,
dan sekali mereka lupa, mereka akan mati dalam
mimpi. Itu hukum yang ditulis di atas batu kuno,
tapi kini, ketika bumi bergetar pada malam bulan
purnama, hukum itu mulai pecah.
Dia mencari petunjuk di bawah tanah. Di ruang
bawah kubur, dia temui kotak kayu yang berisi
gambar ibunya—dengan rambut terpotong pendek,
mata berkacakaca, dan tulisan di belakang:
“Jangan biarkan dia menemui warisan ini.”
Kebenaran datang dalam bentuk ingatan yang
tergantung: dia bukan anak penjaga, tetapi anak
yang dicuri dari keluarga pembuat hukum. Dia
sendiri adalah pewaris Warisan, dan jika dia
hidup, maka semua yang berkuasa di kampung akan
mati karena konflik adat yang terbuka kembali.
Pada malam hari, ketika api lilin padam secara
tibatiba, dia menemui bayangbayang wanita
berpakaian hitam yang berdiri di depan kubur.
Dia tak bergerak. Dia tak bernafas. Dan dia
mengenalinya sebagai ibunya yang sebenarnya —
yang mati dua tahun sebelum Darurat dimulai,
tapi kini muncul sebagai penjaga kubur yang
belum pernah mati.
Cemas melanda. Tubuhnya bergetar. Jam tangannya
berhenti. Di saat itulah, dia sadar: amnesia
bukan kerana kecelakaan. Ia adalah perlindungan.
Dia dibuat lupa agar tidak mengingat bahawa dia
sendiri yang harus membunuh dirinya sendiri
untuk menyelesaikan perjanjian warisan.
Di pagi hari, kampung terkejut melihat kubur itu
runtuh. Batu besar berguling ke tepi jalan.
Tidak ada mayat. Hanya satu kalimah yang
tercetak di tanah: “Allah Maha Mengetahui.”
Dan Lelaki itu hilang. Dalam hati semua orang,
dia sudah mati. Tapi di bawah tanah, kubur kini
kosong. Warisan telah berpindah. Dan sang
Penjaga Rahsia kini adalah orang yang paling
berbahaya — bukan karena kuasa, tetapi karena
dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.


