Kampung Sungai Patah kini hanya reruntuhan jalan
tanah dan pohon kelapa yang tumbang. Pada 1958,
ketika semua orang sibuk menanti kemerdekaan,
seorang gadis bernama Aminah dibawa ke rumah
neneknya setelah ibunya meninggal dalam
pembunuhan misterius. Ia bukan anak biasa—
dipelihara oleh tujuh saudara angkat dari kaum
yang dulu dianggap “tak bersih” oleh penduduk
kampung, tapi kini menjadi satusatunya penjaga
warisan kuno: sebuah kitab yang tidak boleh
dibaca oleh siapa pun selain pewaris yang lahir
di bawah bulan purnama dan ditemani suara
serigala malam.
Pada tahun 1967, kampung itu dilanda gelombang
pembinaan jalan raya baru. Dari kawasan
perkampungan tradisional, muncul lampu elektrik,
radio transistor, dan pengumuman kewangan dari
pusat bandar. Orangorang mulai membangun rumah
beton, menjual tanah, melupakan adat. Tapi
Aminah—yang kini berusia dua puluh satu—tetap
tinggal di rumah kayu tua, menggantung jaring
ikan di halaman, menunggu sesuatu yang tak dapat
dijelaskan.
Pada bulan puasa tahun itu, seorang lelaki muda
muncul dari bandar. Dia bukan pelancong. Dia
adalah Adnan, bekas teman kecil Aminah yang
hilang lima tahun lalu saat Darurat. Ketika
mereka bertemu lagi di pasar malam, jarak antara
mereka bukan sekadar waktu—melainkan kebenaran
bahwa dia telah menikah secara kontrak dengan
seorang wanita dari Pulau Pinang, demi
menyelamatkan keluarga dari hutang. Aminah tahu.
Semua orang tahu. Tapi dia tidak menangis. Hanya
menyerahkan sebuah cincin besi yang dulunya
milik ibunya, dan berkata: “Jangan kembali.”
Tiga hari kemudian, lampu listrik padam di
seluruh kampung. Suara serigala terdengar lebih
dekat. Di bawah tanah, tanah merah mulai
bergetar. Kitab warisan terbuka sendiri di atas
meja kayu. Tidak ada tulisan, tapi gambar
seorang wanita—Aminah—dengan mata yang sama
seperti ibunya, dan di belakangnya, bayangan
Adnan yang sedang menangis. Aminah membacanya.
Tidak dengan suara. Dengan ingatan. Dan ia tahu:
warisan bukan harta, tetapi tanggungjawab. Siapa
pun yang membuka kitab tanpa izin akan mati
dalam tujuh hari. Dan siapa pun yang menolak
cinta yang sudah ditentukan, akan kehilangan
nyawa yang masih hidup.
Pada hari ketujuh, Adnan kembali. Tidak untuk
melamar. Tidak untuk meminta maaf. Dia datang
membawa surat dari kerajaan tempatan: dia
didakwa sebagai penyusup karena menyembunyikan
dokumen rahasia tentang tanah yang dibeli secara
curang. Ia dibawa ke balai polis. Saat petugas
ingin menangkapnya, tibatiba jendela pecah.
Angin berputar. Tanah di sekeliling kampung
menyerap cahaya bulan.
Aminah berdiri di depan rumah tua. Ia menutup
kitab.
Malam itu, Adnan ditemukan terbaring di depan
pintu rumahnya—tidak mati, tetapi tertidur dalam
keadaan yang tak bisa dibangunkan. Telinganya
berdarah. Di leher, tato asing muncul: dua
siluet yang saling menahan tangan, di bawah
bulan purnama.
Kampung kembali sunyi. Listrik tidak pernah
kembali menyala.
Di tahun 1972, orangorang mulai melihat Aminah
memegang anak kecil di bawah tiang lampu yang
tidak pernah menyala. Mereka tidak tahu apakah
anak itu putranya, atau hanya korban baru dari
warisan yang belum selesai.
Tapi semua tahu: di kampung ini, yang paling
sedih bukanlah kehilangan, tetapi ketika hati
tahu kebenaran—dan tetap diam.


