Kampung Teluk Nipah, 1953 — perubahan zaman
membunuh adat. Jalan tanah berubah menjadi
asfalt, rumah kayu diganti bangunan beton, dan
ketua kampung yang dulu bersumpah pada sila
tujuh kini terjatuh ke dalam jaringan polisi
baru: sistem pemantauan darurat yang
menyelubungi setiap desa seperti kain kafan.
Pada malam hujan pertama selepas konstruksi
jambatan baru, seorang gadis kampung bernama
Salmah ditemukan tertidur di lubang tua di
tengah ladang tebu. Perutnya mengembang, pakaian
robek, rambut berlumur tanah. Tidak ada saksi.
Hanya jejak kaki di atas lumpur yang membentuk
lingkaran sempurna, sesuai dengan cara
masyarakat lama memohon perlindungan dari roh
yang masih menuntut hak.
Seketika, suara dari radio taman berbunyi:
"Pemerintah akan memulakan program penggantian
tradisi." Setelah itu, semua lampu padam. Hanya
satu tetikus melompat keluar dari bawah tanah —
dan ia berdarah.
Rumah Salmah dirobohkan tanpa notis. Pihak
kerajaan mengklaim tanah itu milik negara untuk
'kepentingan pembangunan'. Orangorang kampung
bersuara, tapi suara mereka dicatat dalam buku
biru dan dikirim ke ibu kota sebagai 'data
sosial'. Tidak ada jawapan.
Di hari ketiga, anak yang dilahirkan dari Salmah
di kampung terpencil didapati mati, tubuhnya
tersenyum, tangan mengepal, dan mulutnya
terkunci dengan air liur berwarna hijau. Kepala
bayi ditutupi oleh daun pokok durian yang tak
pernah tumbuh di kawasan itu.
Hari ini, tanah kampung kembali beku. Orangorang
bergerak perlahan, tidak berani menatap ke bawah.
Di bawah tanah, suara berkata dalam bahasa kuno:
“Aku sudah menunggu.”
Dan ketika bulan purnama mencapai pusat langit,
tanah itu bergetar sekali — tidak karena gempa,
tetapi karena sesuatu yang telah disimpan selama
dua puluh tahun mulai menyerap kembali cahaya.
Lubang tua kini menjadi pintu.
Salmah tidak mati. Ia kembali — dalam bentuk
kumpulan tanah yang bergerak sendiri, mengambil
bentuk wajah, tangan, dan suara dari semua yang
pernah diseret ke dalam sunyi.
Mereka yang membangunkan kampung itu — pejabat,
jurutera, pembantu — terperangkap di dalam tanah.
Mereka yang mencari nama, rezeki, kemewahan,
tanpa mengira siapa yang terinjak.
Kini, tanah itu mengadili.
Dan di bawah tanah, seorang gadis kampung yang
dulu hamil luar nikah sedang melahirkan kembali
dunia yang pernah dipandang remeh.
Tidak ada lagi kampung.
Hanya tanah yang ingat.


