Hutan Tengah Melaka di 1958 berubah jadi tempat
sunyi yang dipantau oleh gelombang radio dari
stesen kecil di atas bukit, alat yang tidak lagi
hanya mencatat cuaca tetapi juga meresapkan
impuls listrik ke dalam tanah, mengubah ritma
alam menjadi peta perintah. Pohonpohon tua kini
tumbuh membentuk pola frekuensi tertentu,
seperti akar yang menyimpan kenangan.
Seorang gadis muda, Aminah, ditemukan setelah
dua puluh tahun lenyap dari kampung Melayu yang
terkena Darurat. Tubuhnya tak lagi normal:
kulitnya berkilat saat hujan turun, dan bila
berdiri di bawah cahaya bulan, bayangannya
bergerak sendiri. Dia dibawa ke pusat pengawasan
di Kuala Lumpur, tempat sistem pengawasan
elektromagnetik sedang direka ulang sebagai
pengganti tradisi jamuan adat.
Mentornya, Pak Kadir, seorang lelaki tua yang
pernah jadi pegawai khidmat khas kerajaan Jepun,
kini bekerja sebagai penjaga sistem—tapi dia
tahu rahsia sebenar: setiap kali alat itu
bergetar, ia menghidupkan kembali sesuatu dari
masa lalu. “Kau bukan anak yang hilang,” katanya,
tanpa katakata. “Kau adalah batu ujian.”
Aminah diberi satu pelekat logam berbentuk bulan,
dipasangkan pada pergelangan tangan. Ia mengenal
pasti siapa yang boleh dibebaskan dari sumpah
darah—dan siapa yang harus mati. Sumpah itu
ditulis dalam bahasa kuno, disuntik ke dalam
darah keluarga melalui ritual pemotongan jari
ketika pembunuhan pertama terjadi semasa
pendudukan. Tidak ada dokumen. Tidak ada rekod.
Hanya kesedaran yang berdarah.
Pada malam hari, ketika sistem bergetar kuat,
tanah di depan rumah tua Aminah mulai bergetar.
Akarakar pohon membengkak dan membuka satu liang.
Dari dalam, tangan manusia muncul—tangan yang
sama seperti milik ibunya, yang dibunuh di bawah
pohon itu.
Aminah melepaskan pelekat. Dia tidak memilih
untuk membunuh. Dia menekan tangan itu ke tanah,
lalu berlutut. Dalam hening yang hangat, api
kecil menyala di antara tangannya dan tanah.
Tidak untuk balas dendam. Untuk memberi syarat:
kalau kematian ini ingin hidup kembali, maka ia
harus datang sebagai orang yang masih layak
bernafas.
Sistem berhenti bergetar. Cahaya bulan kembali
tenang. Tanah menutup. Dan di pagi hari, sebuah
surat tiba di poskotanya: “Kami menghargai
keberanianmu. Kamu telah bangkit. Sekarang, kamu
boleh tinggal.”
Tetapi di dapur, air didih sendiri. Wajah Aminah
terbayang di cermin, tapi tersenyum—senyum yang
tidak pernah dia ajarkan.


