Kampung Rambai menghening setelah hujan deras
melanda; tanah merah jadi lumpur, papan gerbang
berderik di angin. Di rumah kayu yang sama,
seorang gadis kampung menyerahkan jari
telunjuknya ke dalam kain putih — tanda
bersetuju dengan perjanjian kahwin kontrak yang
ditandatangani oleh ayahnya. Dalam semalam, dia
berpindah ke bandar, di mana lampu jalan menyala
tanpa api, dan kereta berjalan tanpa kuda.
Penduduk bandar mengenalinya sebagai "orang
luar" — suara terdengar asing, cara berjalan
tidak sepadan dengan aturan kota. Di sana, dia
bertemu lelaki yang bekerja di bengkel basikal,
satusatunya tempat di mana mesin masih
digerakkan oleh tangan manusia. Mereka bercakap
tanpa katakata; hanya isyarat, senyuman, dan
kertas yang dilipat menjadi burung kertas.
Tibatiba, kampung terbakar. Api muncul dari
kubur kuno yang ditinggalkan, dipercayai sebagai
tempat doa orang tua yang terlupa. Semua orang
bersumpah: itu adalah balasan atas dosa yang
dilakukan di masa lalu. Orangorang bandar
menyalahkan si gadis — mereka berkata dia telah
membawa kutukan dengan membawa cinta terlarang
dari kampung. Suatu petikan kecil dari buku doa
yang disimpan di bawah tanah muncul:
“Barangsiapa mencintai melebihi takdir, maka api
akan menyeru.”
Gadis itu tidak menyangkal. Dia diam, dan malam
itu, dalam gelap, dia membuka peti kayu yang
selama ini dikunci oleh keluarganya. Di dalamnya:
surat dari ibunya yang mati saat dia masih bayi,
dan sebuah gambar kecil dari lelaki yang pernah
membawanya bermain di sungai. Ia baru sedar:
lelaki di bandar itu bukan saudara lelaki
darinya, tetapi anak kandung ibunya dari
pernikahan terlarang yang dulu ditekan oleh adat.
Salah faham besar — bukan tentang cinta, tapi
tentang darah.
Di pagi hari, dia kembali ke kampung. Api sudah
padam. Tanah merah kembali kering. Di tengah
reruntuhan, seorang tua menyerahkan bunga kuning
dari batang yang tumbuh dari bara. “Ini bunga
takdir,” katanya. “Ia hanya muncul jika
seseorang menerima apa yang ditakdirkan, bukan
menentangnya.”
Gadis itu tersenyum. Ia memetik bunga itu,
letakkan di atas kepala, lalu berjalan pulang.
Kali ini, bukan dengan paksaan. Bukan dengan
tangis. Dengan langkah yang tenang, seperti
angin yang tahu arah.
Di bawah matahari terbit, kampung kembali
bernafas. Anakanak mengejar burung kertas yang
diterbangkan dari jendela bengkel. Di dalam hati,
ada gembira — bukan karena kemenangan, tapi
karena telah menerima.


