Kampung Tenggara, 1983. Tanah FELDA yang dulu

hijau kini jadi batu tanpa tanaman, diserap oleh

asap pembakaran kayu dan suara ketuk papan di

bawah panas matahari petang. Seorang perempuan

muda — Salmah — tiba dengan beg kain beras,

rambut dipotong pendek seperti lelaki, wajah

tertutup serban hitam yang bukan miliknya. Dia

bukan anak kandung orang kampung, tapi anak

buangan yang dikembalikan atas nama warisan

darah.

Di rumah tua itu, tiap langkahnya diawasi oleh

mata nenek, yang hanya bersuara saat menyebut

nama ibunya: "Dia tak layak jadi isteri siapa

pun." Dalam bilik belakang, sebuah gambar kuno

menempel di dinding — wanita cantik dalam baju

kurung merah, tersenyum ke kamera, di samping

lelaki bertopi Melayu yang tak pernah dikenali

Salmah. Nenek melarangnya menyentuh gambar itu.

Tiga hari setelah kedatangan, satu malam hujan

deras, bumbung runtuh. Dari reruntuhan, Salmah

menemukan kotak kayu kecil berisi surat lama,

kertas rapuh yang memetik nama "Dato’ Ismail"

dan tulisan tangan seorang wanita yang sama

seperti pada gambar. Surat itu bercerita tentang

cinta terlarang antara Dato’ dan seorang gundik

licik — seorang perempuan yang dibawa dari Pulau

Pinang, lalu dihantar pergi setelah melahirkan

anak. Anak itu? Salmah.

Pada hari pertama musim kemarau berikutnya,

semua orang berkumpul di balai kampung untuk

upacara penyerahan anak angkat bagi anak saudara

lelaki nenek. Lelaki itu, Yusuf, sudah berjanji

akan kahwin kontrak dengan gadis dari kota.

Namun ketika panggilan disebut, Salmah berdiri.

Tidak menolak. Tidak menangis. Hanya berkata,

“Saya adalah anak Dato’ Ismail.”

Rumah sunyi selama dua puluh tahun tibatiba

berbunyi. Kipas atap berputar lagi. Ibuibu

kampung yang dulu menjauhinya mulai datang

membawa bubur pulut dan cerita lama. Nenek

menangis di bawah tangga, tidak menyangka

anugerah ini akan datang dari mulut cucunya yang

pernah dibenci.

Di tengah perayaan Hari Raya Aidilfitri, Salmah

meletakkan bunga ros merah di atas peti mayat

Dato’ Ismail — yang baru saja ditemui di kubur

yang semula tidak bernama. Bunga itu ditanam di

tengah halaman. Pada pagi hari, ia mekar.

Gembira bukan karena kebebasan, tetapi karena

akhirnya mereka boleh tertawa bersama.