Kampung Lembah Kuda, 1983 — tanah FELDA baru
dibuka, asap pembakaran kering menggantung di
udara seperti perjanjian tak tertulis antara
bumi dan manusia. Seorang gadis kampung, berusia
dua belas tahun, ditemui terlantar di tepi
sungai setelah hujan lebat mencurigakan
membasahi seluruh kawasan. Ia tidak mengenal
nama sendiri, tidak mengenali rumah, hanya
menggenggam sebentuk batu berlubang yang
berbunyi seperti detik jam ketika digosok.
Dalam sebulan, sisa ingatan kembali secara
bertahap — tetapi hanya dalam bentuk gambar:
kakak lelaki yang menyanyikan lagu tradisi di
bawah lampu minyak, ibu yang menangis di depan
kain sarung lama, dan sebuah pintu kayu yang
tertutup rapat di belakang rumah nenek. Semua
itu bukan kenangan biasa; ia adalah bagian dari
ritual pelarangan: sesiapa yang membuka pintu
itu akan ditakdirkan mati dalam tiga hari.
Pada hari keempat puluh, kakak lelakinya — yang
telah dipelajari sebagai orang tua di desa,
penuh rasa bersalah atas kemungkinan membunuh
adiknya dengan keputusan kahwin kontrak dengan
orang kaya dari bandar — menyerahkan surat nikah.
Tapi surat itu ternyata bukan untuk dirinya.
Surat itu ditujukan kepada adik perempuan yang
hilang ingatan, sebagai pengganti anak yang
sepatutnya dilahirkan dari pernikahan yang
dibatalkan.
Dalam gelap malam, sang gadis membuka pintu. Di
dalam, tiada mayat, tidak ada kutukan — hanya
gambar besar ayahnya, dikelilingi oleh empat
orang putera, semuanya menatap kepadanya. Pintu
itu bukan pelindung. Ia adalah penanda: yang
hidup harus mati agar yang lain boleh bernafas.
Tibatiba, suara radio di rumah menyala sendiri.
Lagu “Aku Bukan Milikmu” bermain perlahan, dan
semua telefon rumah di kampung mendadak mati.
Tidak ada aliran listrik. Tidak ada sinyal.
Hanya bunyi air mengalir, dan derap langkah kaki
yang tidak terhitung.
Saat matahari terbit, gadis itu sudah tiada.
Tapi di tepi sungai, bunga apiapa yang dulu
disebut "bunga merah kampung" tumbuh
dari tanah
yang belum dikeringkan. Tanpa akar. Tanpa daun.
Hanya bunga.
Dan di rumah kosong, surat nikah terbakar dalam
kompor, membentuk lambang tangan terbuka yang
melambangkan satu janji: dia bukan milik siapa
pun. Dia hanya milik masa.


