Kampung Telok Muda hanyut dalam kabut kemarau

1943, tanah padi mengeras seperti batu, dan

jalan berlumpur menyembunyikan jejak kaki

orangorang yang tiada lagi. Seorang gadis muda

dari Kuala Lumpur, rambut disisipkan bros kaca

yang masih terpelihara dari zaman penjajahan,

tiba dengan kereta kuda yang dibawa dari stesen

terakhir. Dalam genggaman, sebuah surat dari

ibunya: "Pulang. Tanah itu bukan milikmu — tapi

ia akan membunuhmu jika engkau menolak."

Bumi kampung telah berubah. Semasa pendudukan

Jepun, sistem tanah yang dulu dipegang oleh klan

kaya dikacau — semua hak tanah dideklarasikan

sebagai "milik negara", dan hanya yang sedia

bekerja untuk pasukan pengawal boleh menyimpan

hak atas tanah. Orang kampung hidup dalam

ketakutan: siapa yang mengaku pemilik, bakal

diseret ke bunker di hujung desa. Di

tengahtengah hal ini, warisan tanah yang

sepatutnya menjadi milik gadis itu—dari arwah

bapa yang mati di tangan komander Jepun—

dibebaskan secara paksa oleh klan tua yang

merasa teraniaya.

Gadis itu ditempatkan sebagai pelengkap dalam

upacara "pemurnian warisan" yang dilakukan

setiap bulan baru. Tiap malam, di bawah cahaya

bulan kuning, dia dipaksa berdiri di atas tanah

yang sudah dikotori darah lalu, mengucapkan

namanama orang yang telah mati. Jika suara

tercecut, tanah akan bergetar — dan anakanak

kampung akan menyeret salah satu dari mereka ke

lubang hitam di hutan belakang. Aturan tak

tertulis: siapa yang berani menyangkal warisan,

akan menjadi korban pertama.

Di saat dia mencoba melepaskan diri, seorang

lelaki dari kampung yang dulu dikenal sebagai

pembantu rumah keluarganya muncul. Matanya gelap,

wajahnya berkerut seperti kulit pisang kering.

Dia tidak berkata apaapa. Hanya menyerahkan

sekeping kayu bertulisan: "Ibu kamu tidak mati

karena Jepun. Ia bunuh sendiri demi menjaga

rahsia tanah ini."

Gadis itu berlutut di atas tanah. Tidak menangis.

Tapi sekali saja, dia menggigit lidah hingga

pecah. Darah mencurah ke tanah. Dan untuk

pertama kalinya dalam sejarah kampung, tanah itu

tidak bergetar.

Malam berikutnya, kampung terbakar. Api melahap

semua rumah di kawasan perkampungan kuno. Gadis

itu hilang. Sisasisa surat dari ibunya ditemui

terbakar di atas batu besar, bersama satu

tulisan: “Aku memilih mati agar kau hidup.”

Tidak ada yang mengejar. Tidak ada yang mencari.

Di kampung itu, semua orang tahu: jika warisan

tidak berdarah, maka ia tidak sah. Dan kini,

tanah itu sunyi. Padi tumbuh kembali, tapi tidak

pernah lagi dipetik.

Dalam senja, burung gagak terbang dari hutan,

membawa kepingan kayu yang tersisa — kosong,

tapi hangus.