Di tengah hujan lebat bulan Ramadan tahun 1952,
seorang perempuan muda dari keluarga pembawa
laporan istana ditemukan berdiri di ambang pintu
gerbang berlapis emas, tanpa selimut, hanya baju
malam hitam dan kain sarung yang terseret di
tanah. Ia tidak menangis. Hanya tangan kanannya
yang mengepal erat, menyimpan sekeping daun
petai yang telah kering jadi batu.
Rumah besar itu bukan lagi tempat tinggal — ia
kini diperintah oleh bayangan: sebuah sistem
baru di mana setiap penduduk harus memberikan
satu ingatan setiap hari sebagai "upah"
kepada
raja palsu yang muncul selepas Darurat. Mereka
dipaksa melupakan satu kenangan penting—
kemalangan, cinta pertama, nama ibu—untuk
mempertahankan kedamaian yang ditopengi oleh
kabus magis.
Isteri ini, yang dulunya ahli waris tradisi
konservatif, mulai kehilangan ingatan tentang
suaminya sendiri. Setiap pagi, dia melihat
wajahnya dan tak dapat mengingat namanya. Dia
hanya tahu dia mencintainya. Tapi suaminya—yang
dulu dikatakan pejuang kesetiaan—ditemui sedang
membaca kitab pusaka di bawah tanah istana,
membaca ayatayat yang membuat darahnya merembes
dari telinga.
Sahabat setia yang dulu menjadi penjaga rumah
itu kini hilang. Kepala pengawal ditemukan di
padang belakang, tangan terikat dengan tali
simpul ritual, mata kosong, lidah terpotong—
tanda mereka yang telah menghina larangan
membawa perkataan kuno. Dalam ketiadaan suara,
satu fakta tersebar: semua yang mati dalam
darurat tidak dimakamkan—mereka diserap ke dalam
badan raja palsu untuk menambahkan kekuasaan.
Ketika hujan turun semula, wanita itu menemui
suaminya berdiri di atas tanggul, menyerahkan
dirinya pada angin. Di tangannya, sebuah gelang
besi bertulisan “Pilih Aku Atau Dunia Ini”. Dia
menolak. Dengan satu langkah, dia melepaskan
semua ingatan yang tersisa—termasuk nama anak
yang belum dilahirkan.
Raja palsu runtuh. Tanah gundul di depannya
menelan semua orang yang memegang ingatan
tentang kebenaran. Di sana, hanya tinggal dua
tubuh: satu yang terus marah, satu yang sudah
tidak ingat apaapa.
Wanita itu kembali ke kampung. Tak ada nama. Tak
ada cerita. Hanya sebiji bunga api di tangan,
dan sebuah kutukan: setiap kali dia menatap
bulan, dia melihat wajah suaminya yang masih
berdarah.
Ini adalah akhir.


