Kampung Tepi Sungai, 1952, tanahnya bergetar

setiap kali angin laut menerpa pohon kelapa.

Dalam waktu yang tak terukur, sistem tanah telah

berubah: tanah tidak lagi menyimpan air,

melainkan memendam ingatan. Orangorang yang mati

dalam Darurat tidak pernah benarbenar pergi—tapi

tinggal sebagai bayangan yang muncul hanya pada

bulan purnama.

Orang Tua Bijak, Nyonya Siti, mengetahui rahsia

ini dari darahnya sendiri. Ibu kandungnya

meninggal karena minum air dari sumur yang

dibuang oleh pejuang komunis; namun jasadnya

masih muncul setiap malam di tepi sungai, tangan

terbuka seperti meminta sesuatu. Nyonya Siti

menolak semua yang ditawarkan padanya: upacara,

doa, bahkan pengajaran agama—karena dia tahu,

jika ia percaya, maka bumi akan berbicara

kembali.

Di bawah batu besar di belakang rumah, bunga

berwarna ungu mula tumbuh. Tidak pernah ditanam,

tidak pernah disiram. Ia mekar hanya pada malam

31 Julai, hari sebelum kemerdekaan diputuskan.

Orangorang berkata itu adalah simbol harapan

baru—namun Nyonya Siti tahu lebih daripada itu.

Bunga itu bukan hadiah. Ia adalah janji palsu

yang diberikan oleh rohroh yang belum tenang.

Saat anak lelaki berusia tujuh tahun menjangkau

bunga itu, tanah di bawah kakinya runtuh.

Tubuhnya lenyap dalam satu detik—ditemukan esok

pagi, bersandar di tiang rumah, mata terbuka,

tangan mengepal seperti sedang memegang sesuatu

yang tak ada. Kematian itu tidak dikecam. Tapi

hening yang menyusul—tiada tangisan, tiada doa—

adalah pelanggaran terbesar. Di sana, aturan

baru mulai bekerja: siapa yang menyentuh bunga,

akan diganti oleh bumi.

Nyonya Siti mencabut bunga itu dengan cangkul

kayu. Saat akarnya tercabut, tanah menggigil.

Semua lampu di kampung padam. Dan di tengah

gelap, suara ibu kandungnya berbisik: “Aku tak

ingin kau ikut aku.”

Pagi itu, bunga itu lenyap. Tanah menjadi keras.

Air kembali masuk ke sumur. Anakanak pulang dari

sekolah tanpa rasa takut.

Tetapi setiap tahun, pada 31 Julai, sehelai daun

ungu muncul di atas batu besar—tidak mekar,

hanya berdiri, seperti tanda bahwa janji itu

belum selesai.