Kampung Seri Laut berubah tanpa bunyi: jalan

batu diganti asfalt, radio bateri digantikan

alat elektrik dari bandar, dan tiang listrik

bersinar di atas kubur nenek moyang. Orang tua

berbisik bahawa muka bumi sudah tidak sama—adat

yang dulu menjaga keseimbangan kini terusik oleh

suara mesin dan tangan yang tidak takut kepada

arwah.

Ali, lelaki yang hidup di bandar sejak usia

tujuh tahun, dipanggil balik dengan surat dari

ibunya yang berkata: "Anakku, sumpah itu belum

selesai." Dia tidak ingat nama orang tua yang

mati dalam malam hujan, tetapi ingat bentuk

tangan yang menggenggamnya ketika dia baru lahir—

tangan yang menyumpah di atas air sungai,

membawa janji bukan hanya untuk dirinya, tapi

juga bagi darah keluarganya.

Ketika dia tiba, sebuah rumah kayu di tepi

sungai telah disiapkan. Ia bukan rumah

perkahwinan biasa. Dindingnya diperkuat dengan

buluh yang dikutuk, atapnya ditaburi daun pisang

yang dimasukkan ke dalam tanah sebelum hujan

turun—semua ini demi memastikan sumpah keramat

tidak boleh dilanggar. Jiranjiran bersembahyang

di depan pintu, memandang Ali dengan mata yang

penuh teguran.

Dia dibawa ke kamar dengan dua tempat tidur,

satu untuk dia, satu untuk Nur, gadis yang

dipilih sebagai pasangan kontrak. Mereka tidak

saling kenal. Tapi mereka tahu: jika sumpah ini

gagal, semua rezeki kampung akan lenyap—air

sumur kering, tanah tidak subur, anakanak lahir

tanpa suara.

Hari pertama, Ali melihat Nur membawa semangkuk

nasi kuning ke tepi sungai. Dia tidak

mengejarnya. Dia hanya duduk di atas batu besar,

menatap wajahnya yang bercahaya dalam cahaya

senja. Di situ, dia tahu: ini bukan kahwin

kontrak yang biasa. Ini adalah akhir dari

sesuatu yang sudah lama mati—dan permulaan

sesuatu yang tidak boleh dibiarkan mati.

Pada malam ketiga, seorang penjaga kampung mati

dalam kebakaran di gudang kedai, api yang tidak

bisa dipadamkan. Api itu merembes seperti darah.

Waktu itu, semua orang tahu: sumpah itu sedang

dicabar. Seseorang mencoba mengelak nasib yang

ditentukan.

Ali menemui Nur di kamar lagi. Tanpa katakata,

dia meletakkan tangan di atas dahi Nur. Kedua

tangan mereka bersentuhan di atas air sungai

yang mulai berkilat sendiri. Sumpah itu tidak

bisa dipatahkan—tapi ia boleh ditebus.

Di pagi hari, sungai menjadi benarbenar tenang.

Ikanikan berenang di permukaan tanpa jarak.

Tanah di kawasan itu tumbuh padi lebih cepat

dari biasa. Rumahrumah kampung mulai mempunyai

lampu yang menyala tanpa kabel.

Ali dan Nur tidak menikah secara resmi. Tapi

mereka tinggal bersama. Dan setiap pagi, mereka

menukar air di tepi sungai—sebagai pengakuan.

Gembira bukan karena mereka bebas. Gembira

karena dunia kembali bernafas.