Lelaki itu ditemukan berdiri di tepi kolam tua
di tengah hutan, baju kain sarungnya basah dari
air hujan yang tak pernah berhenti sejak tiga
hari lalu. Dalam genggamannya, surat wasiat yang
ditemui di bawah lantai rumah nenek—surat yang
menyatakan tanah milik keluarganya sebenarnya
bukan hak warisan, melainkan amanah dari pihak
British yang diberikan semasa pendudukan Jepun
sebagai imbalan bagi kerjasama rahsia.
Moden telah mengubah dunia: sistem tanah kini
dipilah oleh komputer, sijil digantikan dengan
kod QR, dan pengesahan sah dilakukan di pejabat
bandar. Tapi di kampung ini, tetap pakai tradisi.
Setiap tanah dibicarakan di forum kampung,
setiap kepala keluarga harus bersumpah di atas
kitab suci, dan siapa yang menolak prosedur itu
akan dianggap musuh adat.
Watak Komedi itu, Pak Mat, ketua kampung yang
selalu bercerita tentang cerita hantu zaman
sekolah tapi justru menjadi satusatunya orang
yang tahu rahsia warisan ini. Ia mengejutkan
semua orang dengan membawa kamera video lama
yang merekam rekod kematian pembantu British
pada 1947—seorang lelaki yang mati dengan tangan
terkejut, menulis nama “Siti” di atas pasir.
Siasat Misteri dimulai dari dua dokumen: satu
dari arsip kota yang menyatakan tanah itu milik
negara, satu lagi dari kotak besi yang dikubur
di bawah rumah nenek, berisi salinan akta yang
ditandatangani oleh dua wakil—seorang Melayu dan
seorang Jepun—dengan tulisan tangan yang sama
seperti surat wasiat.
Pilku merayap saat lelaki itu menyadari bahwa
ayahnya, yang selama ini disalahkan kerana
“membuang adat”, sebenarnya telah membangun
rumah di atas tanah itu untuk menyimpan sesuatu:
sebuah radio mini yang masih aktif, yang
berbunyi sendiri setiap jam tiga pagi, memutar
lagu “Ibu Kita” yang dinyanyikan oleh seorang
wanita bernada serak—sama seperti suara ibunya
yang sudah tiada.
Rumah yang dibina di atas tanah itu kini rusak
akibat tanah longsor. Tetapi tidak ada yang
menduga: kerosakan itu terjadi secara spontan,
tepat saat lelaki itu membuka pintu ruang bawah
tanah. Di situ, berdiri tiga lilin berwarna ungu—
warna yang dilarang digunakan dalam upacara adat
karena dianggap simbol pelanggaran kepercayaan.
Di antara abjad yang terukir di dinding, tertera
kalimat: “Jika anakmu ingin tahu, biarkan dia
tahu. Tapi jangan biarkan dia hidup.”
Lelaki itu memadamkan lilin. Hari esok, tanah
itu resmi dinyatakan milik negara. Namun, dalam
gelombang listrik yang tibatiba padam di seluruh
kampung, sebuah rekaman audio terdengar dari
radio: suara ibunya berkata, “Aku tidak mati.
Aku hanya lari dari kamu.”
Dan di kampung itu, tiada seorang pun yang
percaya bahwa ia sedang berbicara dengan arwah—
kecuali Pak Mat, yang tertawa terbahakbahak
sambil mengetuk kepala sendiri dan berkata, “Ah,
dah kena main hati.”
Tetapi malam itu, semua lampu di rumah nenek
menyala sendiri. Dan di tengah halaman,
bayangbayang dua orang berdiri — satu lelaki,
satu wanita — berpegangan tangan.
Tanah itu tidak pernah jadi milik siapa pun.
Ia tetap milik mereka yang tidak bisa kembali.


