Pulau Tenggara yang dulunya tenang kini sunyi

seperti kubur setelah Jepun menarik diri tahun

1945 — pemerintahan lama runtuh, tetapi sistem

adat baru tak sempat tumbuh. Orangorang berjalan

dalam lingkaran, tidak berbicara, tidak melihat

mata satu sama lain. Sejak itu, setiap malam,

angin membawa deruan seperti tangisan, dan darah

mulai mengalir dari celah tanah.

Lelaki bernama Haji Salleh, bekas penghibur

kampung yang dulu selalu mengusik orang tua

dengan cerita janggal, kini dipaksa menjadi

penjaga 'pintu larangan' — sebuah tempat di

hujung pulau yang hanya boleh dikunjungi oleh

yang telah diberi 'warisan'. Tradisi

menyatakan:

setiap generasi, seorang lelaki harus dinikahkan

secara paksa dengan gadis dari desa tetangga

untuk menjaga keseimbangan antara dunia nyata

dan yang tak terlihat. Bukan kerana cinta, bukan

kerana agama — tapi kerana jika tidak, pulau

akan menelan semua yang tinggal.

Pada bulan Ramadan ke12 selepas Darurat, dia

ditemukan oleh seorang perempuan yang dulu

hilang ketika serbuan polis. Dia datang tanpa

suara, wajahnya pucat, rambut hitam berkilat

seperti air laut. Dalam hatinya, Haji Salleh

tahu: ini adalah Rahimah, kekasih pertamanya

yang dibawa pergi oleh ayahnya kerana mereka

dari dua kaum yang dilarang bersatu. Dia kembali

— bukan sebagai manusia, tetapi sebagai simbol.

Hari ke3 sebelum Puasa, anakanak pulau mulai

mati — tiap satu, muka mereka tersenyum, tangan

terkepal, dan bibir berdarah. Ahli adat berkata:

"Pintu terbuka." Haji Salleh mencari

kitab lama

yang dikunci di bawah rumah nenek, dan temui

tulisan yang menyatakan: perkahwinan paksa bukan

sekadar ritual — ia pembayaran jiwa. Setiap kali

seseorang dinikahkan secara paksa, jiwa satu

orang di dunia yang tak terlihat akan diserap.

Dia mencoba menolak, namun pada malam Tarawih,

semua lampu padam. Di tengah gelap, wanita itu

berdiri di depan pintu, menunduk. Dia

menyerahkan sebuah ikat pinggang sarung yang

sama seperti yang pernah dia pakai waktu muda.

Haji Salleh memakainya. Pada saat itu, semua

suara pulau berhenti. Tanah bergetar. Dan di

atas puncak bukit, bayangbayang bergerak sendiri

— bukan milik manusia, tapi milik ribuan yang

pernah diperlukan sebagai korban.

Ketika fajar menyingsing, pulau kembali sunyi.

Tidak ada mayat. Tidak ada tangisan. Tapi Haji

Salleh duduk di tepi pantai, mengenakan ikat

pinggang itu, memandang ke laut. Di sana,

bayangannya terbalik — bukan lagi lelaki yang

tertawa, tapi sesuatu yang sudah lama mati.

Ini bukan akhir. Ini adalah mulanya.