Kampung Tepi Sungai terbenam dalam kabut 1947,

tanahnya berlumpur dari hujan berulang dan suara

tembakan tak kunjung reda. Kedua belah pihak —

Melayu, Cina, dan Orang Asli — sudah tidak

percaya lagi pada kata "satu bangsa".

Batas desa

dipindahkan setiap malam oleh pasukan gerilya,

dan setiap rumah jadi tempat bersembunyi atau

pembunuhan.

Di tengah kekacauan itu, seorang lelaki muda

berusia dua belas tahun ditemukan terbaring di

bawah batang kelapa sawit, tubuhnya penuh luka

akibat diserang oleh penjaga kampung. Dia dibawa

masuk ke rumah keluarga penghulu, yang kemudian

menyatakan dia adalah anak buangan dari seorang

pekerja Jepun yang mati dalam penahanan. Nama

dia tidak diketahui. Hanya tanda di leher—sebuah

simbol silang biru—yang tidak boleh dihapuskan.

Dalam masa tiga tahun, dia tumbuh sebagai

pelajar sekolah kecil yang membaca bukubuku

larangan, termasuk ayatayat AlQuran yang

dilarang dibaca oleh sesiapa yang tidak

bersumpah atas tradisi. Mentor Tegas, seorang

guru tua dari kampung lama, mencampakkan pedang

ke tanah saat melihat dia membaca surah

alBaqarah tanpa izin. "Kamu bukan milik

kami,"

katanya, tapi tidak mengusir. "Jika kamu ingin

hidup, kamu harus mengejutkan dunia."

Pada musim panas 1953, seorang wanita muda dari

kampung bersebelahan datang ke kampung itu

dengan kain sarung merah muda dan mata yang tak

pernah tersenyum. Dia adalah puteri seorang

tokoh adat yang membenci penduduk asing, tetapi

dia tahu siapa dia: lelaki yang bernama dirinya

sendiri dalam catatan Jepun. Mereka saling

mengenal tanpa berbicara. Di bawah pokok getah,

mereka bertemu lima kali. Setiap kali, dia

menyimpan bunga mangosteen di tangannya — tanda

cinta terlarang yang hanya bisa dikenali oleh

orang yang juga hidup di antara dua dunia.

Pada bulan Oktober, pasukan polis darurat

menyerbu kampung. Semua orang diminta

menandatangani surat sokongan politik. Si anak

buangan ditunjuk sebagai "tumpuan"

kerana tanda

silang biru di lehernya. Dalam kepanikan, dia

mencari celah untuk menyelamatkan wanita itu.

Saat mereka berlari ke hutan, sebuah senapang

melepaskan tembakan. Wanita itu terjatuh. Darah

meresap ke tanah, membentuk lingkaran seperti

bulan separuh.

Dia mengejar ke arah sungai. Di tepi air, dia

melihat bayangannya sendiri — lelaki yang dulu

tertidur di bawah kelapa sawit. Tibatiba, tanda

silang biru di lehernya mulai bercahaya. Air

sungai berubah menjadi gelap seperti minyak, dan

suara gema dari masa lalu menyanyikan lagu

ibunda yang tak pernah dia dengar.

Mentor Tegas muncul dari balik semak. "Kamu

bukan anak buangan," katanya. "Kamu adalah

pewaris daripada satu zaman yang dilarang. Kalau

kamu hidup, dunia akan berputar kembali. Dan

kalau kamu mati, cinta ini akan jadi legenda."

Lelaki itu memegang tangan wanita yang sudah

tiada. Dia menarik bunga mangosteen dari

rambutnya, letakkan di atas dada, lalu berlutut.

Di situlah, langit pecah. Suara ribuan manusia

berbisik namanama mereka dalam bahasa yang tidak

pernah dia ajarkan.

Sekarang, setiap tahun, bunga mangosteen tumbuh

di tempat itu — meski tanahnya tak pernah subur.

Dan jika seseorang mendekatinya di waktu maghrib,

mereka akan melihat bayangan dua orang berdiri

berdampingan, tanpa suara, tanpa kata, tapi

dengan hati yang sama.