Kampung Tenggara pada tahun 1948: tanah

berlumpur, hujan selalu datang di tengah malam,

dan angin membawa bau asap dari pematang yang

terbakar. Di sana, sebuah rumah bambu dengan

atap daun nipah menjadi tempat tinggal seorang

bomoh tua yang hanya dikenali sebagai Pak Cik

Lintang. Orangorang datang dalam kegelapan untuk

minta doa, tapi dia tidak pernah berkata apaapa —

hanya menatap mereka dengan mata kosong seperti

cermin retak.

Di tengah gelombang Darurat, semua orang tahu:

siapa yang diseret ke hutan tanpa nama, tidak

akan kembali. Sistem rasa takut sudah jadi

mekanisme baru dunia. Batas antara musuh dan

saudara runtuh. Seorang gadis Melayu dari

keluarga pengikut adat lama, anak tetua desa,

dicuri oleh pasukan komunis dalam satu serbuan.

Semua orang menyangka dia mati.

Tapi dia hidup. Dan dia datang kembali — tanpa

kaki kiri, tanpa suara, hanya mata yang masih

bernafas. Ia ditemukan di bawah pohon getah tua,

bersandar di batang yang penuh goresan bulan.

Pak Cik Lintang merawatnya tanpa kata, hanya

dengan ramuan dari akar kering dan air dari

peluh sendiri.

Cinta tumbuh tanpa izin. Wanita itu, meski bisu,

pandai menulis surat di tanah dengan jari. Satu

hari, surat itu bertulis: Aku takut kau akan

bunuh aku juga jika aku jadi milikmu. Tapi dia

bukan milik siapa pun. Dia hanya milik takdir.

Sekali lagi, pakar rahsia dari bandar datang

dengan pesanan: "Hapuskan dia. Dia membawa

kutukan." Maknanya: hentikan segala yang tidak

dapat dikendalikan. Bomoh misteri tahu ini bukan

soal politik — ini soal adat yang mulai runtuh.

Jika dia membunuh gadis itu, maka dia sendiri

akan dibunuh oleh arwah nenek moyang yang

berjagajaga di bawah tanah.

Dalam hujan deras, dia membawa dua cawan. Satu

berisi air kuning dari sungai terlarang; satu

berisi minyak dari batu yang tidak pernah panas.

Dia menyerahkan cawan pertama ke gadis itu.

“Minumlah,” katanya. Tapi dia tidak bicara.

Hanya menatap.

Gadis itu minum. Dan selepas lima jam, tangannya

berubah menjadi akar. Wajahnya jadi batu.

Tubuhnya membeku di atas tanah, tertancap

seperti pohon baru. Tidak mati. Tidak hidup.

Tapi terjebak dalam bentuk lain.

Pak Cik Lintang duduk di depan rumahnya hingga

fajar. Tanpa kata. Tanpa menangis. Hari itu,

semua penduduk mendengar suara pohon berderak,

dan lihat bayangan manusia yang tidak bergerak

di bawah cahaya bulan. Mereka tahu: kini ada

sesuatu yang lebih tua dari adat. Sesuatu yang

tidak ingin dijumpai.

Lagilagi, bulan terbit. Tapi kali ini, tidak ada

bayangbayang yang jatuh di tanah. Hanya akar

yang merambat dari lubang tanah, menuju ke rumah

bambu.