Pada tahun 1952, kawasan hutan di Tanjung

Rambutan menjadi pusat eksperimen pemerintahan

baru: manusia diberi kemampuan mengendalikan

aliran tenaga listrik melalui saraf, bukan mesin.

Sistem ini disebut Tumbuhan Jiwa, dan hanya yang

dilahirkan di bawah bulan kuning dapat

memancarkan arus itu. Pemilihan tidak lagi

berdasarkan darah, tetapi pada detektor biologik

yang dipasang di tiap kampung.

Di kampung itu, seorang lelaki muda bernama

Hafiz—pemilik mata kelabu dan tangan yang

bergetar saat mendekati kabel—ditemukan sebagai

satusatunya penduduk yang bisa menyalakan lampu

desa tanpa perlu batere. Ia bukan anak orang

kaya, bukan keturunan bangsawan, tapi hanya anak

pengumpul getah. Namun, detektor menunjukkan

kadar aktivitas saraf lima kali lebih tinggi

dari ratarata. Dia jadi tokoh utama dalam sistem

baru.

Gadis bandar sombong, Aina, datang dari Kuala

Lumpur dengan kereta jalan berlapis kain satin

dan kasut kulit. Ia dikirim untuk menjadi

pengurus sistem baru—mengawasi pembagian kuasa

energi antara kampungkampung. Ia benci bau tanah,

benci suara anakanak kampung, benci kehidupan

tanpa AC. Tapi dia harus tinggal selama dua

bulan, menurut aturan: tiada orang yang boleh

meninggalkan wilayah jika mereka pernah aktifkan

Tumbuhan Jiwa.

Saat hujan pertama turun setelah dua tahun

kering, aliran listrik gagal. Desa gelap. Hafiz

ditemukan berdiri di tengah jalan, tangan

menyentuh tiang elektrik. Arus muncul kembali,

tapi hanya untuk satu rumah—rumah milik adik

lelakinya yang telah mati dalam Darurat. Semua

alat menunjukkan Hafiz sedang mengendalikan arus

secara langsung. Tapi ia tidak menyentuh apapun.

Aturan baru mulai berdarah: siapa pun yang

menggunakan kuasa listrik tanpa izin akan

dihukum dengan kehilangan ingatan selama tiga

hari. Hafiz tidak dihukum. Malah, kampung

memberinya gelaran "Penjaga Api". Aina

marah. Ia

menuntut supaya Hafiz dibawa ke ibu kota untuk

diuji. Tapi saat ia mencoba mengambil alih

kendali, kabel yang tersentuh tibatiba meledak.

Dalam kegelapan, ia melihat bayangan Hafiz

berdiri di depan pintu rumahnya—tangan terangkat,

wajah tenang.

Hari berikutnya, semua penjaga sistem di desa

lain mati. Mereka ditemukan dengan otot saraf

meletus, seperti terbakar dari dalam. Hanya

Hafiz yang masih hidup. Aina menyerahkan dokumen

pengunduran diri—tapi dokumen itu lenyap. Saat

ia membuka peti kayu, ada surat dari adiknya

yang sudah mati: “Jangan percaya orang yang

tenang.”

Pada malam keempat, Hafiz berjalan ke tengah

desa. Ia tidak mengaktifkan aliran. Ia hanya

berdiri. Lampu padam sendiri. Seluruh kampung

sunyi. Tidak ada suara, tidak ada getaran. Aina

berdiri di ambang pintu, melihatnya. Tidak marah.

Tidak takut. Hanya tenang.

Esok pagi, sistem Tumbuhan Jiwa dinetralisasi.

Tiap kabel putus. Tiap detektor rusak. Tidak ada

lagi orang yang bisa mengendalikan listrik.

Hanya satu orang yang tahu bagaimana

memulihkannya—dan dia tidak mau.

Di kampung itu, malam hari kembali tenang. Tidak

ada cahaya, tidak ada suara mesin. Hanya angin

dan suara burung. Aina tidak kembali ke bandar.

Ia tinggal. Di rumah yang sama. Dengan orang

yang dulu ia benci.

Dan di sana, dia belajar: tenang bukan karena

damai, tapi karena semua perlawanan telah

berakhir.