Kampung Beringin hancur dalam satu malam.

Letusan Gunung Tanduk meleburkan sawah, rumah,

dan jalan raya menjadi batu bara. Hanya satu

tangga kayu tersisa, tergantung di atas lubuk

hitam yang kini menjadi perbatasan antara negeri

yang masih bernafas dan yang sudah mati.

Orangorang selamat berpencar ke pusat

pengungsian, tetapi sistem baru lahir: setiap

desa diperintah oleh komite kecil yang dibentuk

oleh pihak kerajaan selepas bencana. Mereka

mengawal semua hak milik, makanan, dan bahkan

perkahwinan. Dalam undangundang baru ini,

seorang wanita yang kehilangan suami dan anak

harus dinikahkan dengan lelaki pilihan komite—

tanpa persetujuan—jika dia ingin mendapat tempat

tinggal permanen.

Ali, anak yatim berusia 19 tahun, tinggal

bersama ibunya yang sakit parah. Dia bekerja

sebagai penjaga api di kampung pengungsian,

menyimpan minyak tanah untuk membakar kertas

surat yang tidak boleh dikirim. Setiap malam,

dia membaca suratsurat lama yang disimpan di

dalam kotak kayu—surat dari ayahnya, seorang

guru sekolah rendah, yang mati dalam bencana

karena terlambat pulang.

Satu petang, ketika Ali sedang mengambil air

dari sumur yang kering, seorang gadis muncul

dari arah timur. Siti, anak dari keluarga yang

dihantar dari kampung lain, datang sendirian.

Wajahnya pucat, tapi mata terus bercahaya

seperti lampu kecil di tengah kegelapan. Dia

dilarang masuk kampung oleh komite, tetapi dia

bersembunyi di bawah jambatan rusak.

Ali melihat dia, dan tahu: jika dia membawa Siti

masuk, mereka berdua akan ditangkap. Jika dia

meninggalkannya, dia akan mati.

Malam itu, komite mengumumkan perkahwinan paksa

bagi ibunya dengan lelaki tua dari kampung besar.

Ibu Ali diminta menandatangani surat dalam waktu

48 jam. Ali menolak. Dalam dua hari, komite

menyerbu rumahnya. Api dibakar di depan pintu.

Kedua orang tua yang duduk di atas tikar dihalau

keluar.

Ali membawa ibunya ke bawah jambatan. Di sana,

dia menemui Siti. Mereka tidak bercakap. Tidak

perlu. Ada dua buah topi kain merah yang tersisa

dari kampung lama—Ali menyerahkan satu kepada

Siti.

Pada malam ketiga, komite menyerbu lagi. Ali

melompat ke lubuk hitam yang dulu menjadi jalan

raya. Di bawah air panas yang belum dingin, dia

menyelam ke dasar. Di sana, di bawah batu,

tersembunyi sebuah kubur kecil. Di atasnya,

tulisan kecil: "Abu Ayah."

Ali menggali lebih dalam. Dari dalam tanah, dia

mengeluarkan sebuah gading kambing yang dulu

dibawa ayahnya sebagai simbol kesetiaan. Dia

memegangnya, lalu melemparkannya ke arah komite

yang datang. Gading itu pecah.

Di saat yang sama, api di kampung mulai menyala.

Komite berhenti mengejar. Sebuah angin kencang

datang dari laut—bukan angin biasa. Semua orang

melihat awan hitam bergerak cepat, membawa ribut

yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Dalam kegelapan, Siti menatap Ali. Dia tidak

berkata apaapa. Hanya mengangguk.

Esok pagi, kampung pengungsian kosong. Tiada

orang yang tinggal. Hanya dua bayangbayang kecil

yang berdiri di tepi lubuk.

Ibu Ali mati pada hari keempat. Tidak ada

jenazah. Tidak ada upacara.

Ali dan Siti tidak menikah. Tidak pernah. Tapi

mereka tinggal bersama—di bawah tanah, di antara

batu dan asap.

Saat itulah maruah bukan lagi soal kebenaran,

tetapi soal keberanian.

Dan di kampung yang hancur, cinta terlarang

tumbuh dari debu.

Sayu.