Kampung Pulau Laut lenyap tiga tahun lalu akibat

tsunami yang meruntuhkan semua titik tetap:

jambatan, masjid, rumah kediaman, dan jalur

tanah. Kini hanya tersisa pulau kecil di atas

air suram, dikelilingi kabel listrik mati dan

pohon kelapa yang tumbuh menyerupai mayat.

Orangorang hidup dalam sistem baru: tiap pagi,

warga dibawa ke tempat kerja oleh kapal kabus

yang tidak pernah kembali. Mereka diberi kartu

identiti dari daun kelapa kering, dan dikira

sebagai "pemulihan" jika tidak menyebut nama

sebelum bencana.

Siti kembali setelah dua belas tahun, bukan

sebagai penghuni, tapi sebagai penentu. Ia

datang dengan dokumen palsu dari kota besar—

tanda bahawa ia masih hidup dalam sistem yang

telah menghapus namanya dari rekod. Di pulau itu,

orangorang takut mencari orang yang bernama Siti.

Sebab siapa pun yang menyebut nama lama akan

ditangkap dan dibawa ke tengah laut, duduk dalam

kandang kayu selama tujuh hari. Jika tidak

menangis, mereka dibiarkan. Jika menangis,

mereka dianggap tidak layak.

Di tengah malam, Siti bertemu Amir. Dulu, dia

pelajar sekolah kampung yang suka membaca buku

alQuran dan bermimpi menjadi guru. Sekarang,

Amir memakai seragam biru gelap, berdiri di

depan pos pemeriksaan, mengawasi orangorang yang

datang. Dia bukan lagi rakan sekolah—dia rakan

kongsi jahat yang menjual dokumen palsu dan

membantu warga melupakan nama mereka sendiri.

Saat Siti menatapnya, dia tidak bergerak. Hanya

tangan yang gemetar, lalu menyentuh kantung kain

yang menyimpan foto lama—mereka berdua di bawah

pokok getah, senyum tanpa beban.

Amir tidak berteriak. Tidak menangis. Tapi

ketika petugas datang, dia menyerahkan kertas

kosong kepada Siti dan berkata, “Jangan jawab

apaapa.” Bukan katakata—hanya isyarat dari jari

yang menunjuk ke laut. Siti mengerti. Ini adalah

cara dia menyelamatkannya tanpa mengkhianati

sistem.

Malam itu, kabel listrik mati. Air naik. Kapal

kabus tidak datang. Warga berjalan menuju darat

yang tak pernah ada lagi. Siti duduk di tepi air,

memegang foto yang basah. Di belakangnya, suara

teriakan mulai terdengar—orangorang yang

teringat nama mereka, dipaksa berlari ke tengah

laut.

Siti tidak melompat. Tapi saat matahari terbit,

dia sudah hilang. Hanya jejak kaki di pasir yang

menunjuk ke arah laut. Tidak ada tubuh. Tidak

ada barang. Hanya satu ayat yang tertulis di

atas batu: “Dari tanah yang tak kembali, aku

kembali.”

Bersih. Kepala kosong. Tidak ada nama. Tidak ada

cerita. Tapi dunia tetap berputar—dan pulau itu

kembali sunyi.