Kampung Tanjung Tengah berhenti bernafas pada

tahun 1952. Langit mulai berubah kuning tiap

petang, seperti cahaya minyak lampu yang tak

pernah padam. Orang tua berkata: “Bumi sedang

menarik nafas.” Sistem jalan raya runtuh, tapi

anakanak masih bermain bola di tanah liat tanpa

kabus. Semua ini terjadi karena hukum baru:

siapa yang mencipta kembali peta, akan mendapat

kuasa atas alam.

Lelaki itu pulang dari penjara Jepun dengan

bekas senjata di bawah baju, tapi tidak membawa

dendam. Isteri pertamanya, Datin Aminah, sudah

menikah lagi — bukan dengan orang Melayu, bukan

juga Cina atau India. Dia menikah dengan

bayangan yang muncul dari dalam tanah, wajahnya

samar, tapi suaranya meresap ke mimpimimpi para

penduduk. Dalam tradisi kampung, perkahwinan

dengan makhluk lain hanya boleh jika dua

keturunan setuju — dan mereka tak ada.

Konflik keluarga meletup ketika kubur nenek

dibuka tanpa izin. Tulangtulang dipindahkan ke

tempat baru, tetapi salah satu tulang belakang

tidak kembali. Anak sulung Lelaki itu hilang.

Tiga hari kemudian, tubuhnya ditemukan di lubang

sumur, tangan terikat dengan benang emas dari

kain upacara kematian. Dalam saku, surat lama:

“Aku janji, aku akan datang.”

Rumah itu sunyi. Tiada dering telefon. Tiada

suara anak kecil. Hanya bunyi angin yang

berbisik nama Datin Aminah dari arah hutan.

Rumah ibubapa kini kosong, dinding retak, tetapi

bantal tidur masih hangat. Lelaki itu duduk di

depan pintu, memegang gambar kuno yang sudah

pudar. Di situ, dia melihat wajahnya sendiri —

muda, tanpa luka, bersama Datin Aminah di bawah

kelapa sawit.

Hari keempat, langit kuning semakin tebal. Waktu

berhenti. Orangorang berhenti bekerja. Mereka

duduk di tangga, menatap ke langit. Seorang tok

guru berkata: “Janji yang disimpan di tanah akan

kembali — tapi bukan dalam bentuk manusia.”

Pada malam keempat, Lelaki itu membuka peti kayu

di bawah lantai. Di dalamnya: sebuah baju

pengantin putih, sarung tangan kulit, dan sebuah

cermin pecah. Di belakang cermin, tertulis dalam

tinta merah: “Jika kau mahu balik, tolong jangan

cari aku.”

Dia menarik nafas panjang. Tangannya bergetar.

Tapi dia tidak menangis.

Langit tetap kuning.

Rumah itu masih sunyi.

Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, dia merasa

tenang.