Bulan pertama selepas darurat berakhir, tanah
kampung Tenggara dipenuhi kabut tebal yang tak
pernah ada sebelum ini. Pohonpohon bergetar
tanpa angin. Rumahrumah lama runtuh sendiri
dalam kegelapan. Masyarakat bersumpah: tiap
malam bulan penuh, batas antara dunia nyata dan
dunia roh jadi nipis—seperti kain merah yang
digantung di atas kubur nenek moyang.
Lelaki itu, Sani, dibawa ke tempat hukum adat
kerana dikatakan menikahi gadis kampung secara
kontrak tetapi menyimpan wanita lain dalam bilik
bawah tanah. Tidak ada bukti langsung—hanya
bisikan dari tiga orang tua yang mendakwa lihat
bayangbayang perempuan berbaju putih keluar dari
rumahnya waktu bulan penuh. Dalam sistem baru
ini, adat tidak lagi hanya aturan manusia; ia
menjadi kekuatan fisikal yang boleh mencabut
nyawa.
Saat ia ditahan, tangan kanannya terbakar
tibatiba. Darahnya mengalir merah cerah, tapi
tak berdarah—ia menghasilkan asap tipis yang
membentuk simbol siling raja zaman dahulu. Hukum
adat kini berkata: siapa disalahkan dengan
dakwaan politik istana, akan dikaji oleh "jalan
bulan". Ia bukan proses pengadilan—ia adalah
ujian.
Di tengah malam, Sani dilepaskan untuk masuk ke
hutan belantara tempat semua yang dihukum dulu
diseret. Tanah berdarah, langit berwarna ungu.
Di sana, dia menemui gadis kampung yang disebut
sebagai isterinya—tapi wajahnya berubah tiap
kali bulan memantul. Dia tidak ingat nama, hanya
suara yang berbisik: "Kau cuba lari dari
kewajipan, tapi kau juga yang membiarkan mereka
mati."
Hukum baru: kalau seseorang dicurigai melakukan
hubungan terlarang dengan orang yang dilindungi
oleh politik istana, maka mereka akan diminta
menyerahkan satu ingatan—yang terus dibakar di
api bulan. Sani memilih ingatan tentang ibunya
yang meninggal ketika Jepun bakar desa. Api
menelan kenangan itu. Waktu terasa lebih cepat.
Suara orang kampung datang dari arah yang salah.
Pada hari keenam, bulan penuh kembali. Sani
berdiri di atas longkang tempat mayat dikubur.
Tanah runtuh. Di bawahnya, kain merah—dari jubah
kesultanan—tergantung di udara. Tidak ada badan.
Tapi saat tangannya menyentuhnya, semua ingatan
terlalu jelas: dia bukan pencuri cinta. Dia
adalah pewaris yang ditinggalkan. Gadis itu
bukan isteri yang dicurangi—dia adalah anak
saudara yang dijadikan sandaran bagi rahsia
warisan istana.
Bulan memudar. Kabut kembali padam. Kampung
pulih—tapi tiap malam, anakanak kampung melihat
bayangbayang dua orang berjalan bersama di atas
tanah yang tidak terjejak. Tiada kata. Tapi kain
merah tetap tergantung di udara, hangat seperti
nafas.


