Di kampung Semporna tahun 1954, bulan penuh

menjadi penghalang hidup: manusia tidak boleh

keluar rumah ketika cahaya itu menyala, kerana

darah akan mengalir dari mata mereka jika

tersentuh sinarnya. Ini bukan mitos—kewajiban

ini terbit selepas pendudukan Jepun, ketika

ritual pembakaran jiwa tersembunyi di bawah

tanah menjadikan bulan sebagai pintu antara

dunia nyata dan alam roh.

Seorang lelaki tua, Mat Rani, dikenali sebagai

"Pahlawan Terluka" kerana gagal menyelamatkan

istrinya dari penyerangan gerombolan dalam

Darurat. Ia kini tinggal sendirian, membawa

bekas senjata dan jantung yang berdetak perlahan

seperti waktu yang terputus. Setiap malam, ia

mendengar suara bayi menangis dari hutan

belakang rumah—tapi takut keluar kerana bulan

sedang penuh.

Pada satu malam, bulan berdarah. Tanpa sengaja,

Mat Rani melangkah keluar. Di bawah cahaya merah

itu, dia menemui seorang bayi lelaki yang

dibungkus kain kain sarung warna hitam,

ditinggalkan di atas batu berukir namanama orang

mati. Bayi itu bernafas, tapi tak bersuara—dan

matanya berwarna biru kehitaman, seperti mata

yang pernah dilihatnya di mimpimimpi isterinya.

Dalam kegelapan, Mat Rani membawa bayi pulang.

Tapi sejak itu, setiap kali ia meletakkan bayi

di tempat tidur, wajahnya berubah: rambut

panjang tumbuh dalam sekejap, kulitnya berkulit

kering, dan suara bisik dari celahcelah dinding

menyebut nama ibunya—yang sudah mati lima tahun

lalu.

Hari berikutnya, kakak iparnya datang dari

bandar dengan surat dari Pejabat Kebajikan. Bayi

itu bukan anaknya—tidak disahkan sebagai waris

keluarga. Tapi surat itu juga menyebut:

“Kepentingan kampung lebih penting daripada

kebenaran.”

Mat Rani mencari buku lama di bawah lantai kayu.

Ditemukan catatan rahasia: bayi yang dibesarkan

di bawah bulan ghaib akan menjadi "penentu

nasib"—satusatunya manusia yang boleh membuka

kembali pintu antara dunia manusia dan alam roh.

Tapi jika dipulangkan, alam akan runtuh selama

tujuh tahun.

Ia berdiri di depan altar rumah, bayi di tangan.

Di luar, langit mulai gelap. Bulan berdarah lagi.

Sebuah suara dari dalam dirinya berkata: “Jika

engkau tidak memberi dia nama, dia akan jadi

milik semua.”

Mat Rani menatap bayi. Lalu menulis nama di kain

— Zulfikar. Tidak nama keluarganya. Tidak nama

siapa pun. Hanya sebuah nama yang belum pernah

dilafazkan.

Di pagi hari, kampung terus sunyi. Tidak ada

tangisan. Tidak ada bisikan. Pohonpohon di

halaman bertambah tinggi, daunnya berkilat

seperti logam. Mat Rani duduk di serambi, bayi

di pangkuan. Cahaya hangat dari matahari baru

menyentuh kulit mereka.

Dan untuk pertama kalinya sejak 1947, Mat Rani

tertidur tanpa mimpi.