Desa Sungai Rambai, 1952 — tanah yang sebelumnya
dibelai sungai dan sawah, kini berubah jadi kubu
penuh kegelapan setelah pembakaran rumah tok
guru pada malam bulan purnama. Bukan api biasa:
api itu membakar bukan kayu, tapi udara sendiri,
menyisakan bekas hitam seperti tinta yang
merembes ke kulit tanah. Di tengah keheningan
itu, sekeping batu berbentuk bulan pecah dari
bawah tanah, dipaparkan di atas kain kafan tua.
Lelaki kaya sombong itu — Anuar, anak peniaga
minyak kelapa yang membangun kilang di Pulau
Pinang — datang dengan kereta panjang dan
penjaga bersenjata. Ia tidak percaya pada
perkara ini. Tapi saat ia menjejakkan kaki di
tanah desa, tanah itu bergetar. Setiap
langkahnya menimbulkan bayangan lebih panjang
dari tubuhnya, seperti sesuatu yang sedang
melihat kembali.
Sekali lagi, batu bulan itu bergetar. Dan kali
ini, ia memancarkan suara: bukan kata, tapi
rindu yang tertahan. Anuar mendengarnya dalam
hati — gambaran kecil seorang gadis kecil,
berdiri di tepi sungai, menatapnya dengan mata
kosong. Gadis itu mati ketika Anuar masih
kanakkanak. Dia menyalahkan kematian itu pada
kuda gila yang terlalu dekat dengan jalan raya,
tapi kini, batu itu mencatatkan nama anak itu di
bawah permukaannya: Siti Aminah, anak perempuan
tok guru, dikubur di bawah akar cempaka.
Hukum lama desa: siapa yang membawa pusaka
pulang ke kampung akan dituntut darahnya sebagai
tebusan. Tidak ada surat perjanjian, hanya rasa
sakit yang semakin kuat di dada jika berani
melawan. Anuar cuba membuang batu itu di laut,
tapi kapalnya runtuh dalam lima minit — air laut
menjadi hitam, dan ikanikan terapung dengan
mulut terbuka, seperti sedang menjerit.
Ketika Anuar kembali ke kampung untuk mencari
jawapan, desa telah berubah. Semua orang hidup
di waktu yang sama — pagi, petang, malam — tapi
mereka tidak melihat satu sama lain. Mereka
berjalan di antara bayangan, sambil menyanyi
lagu lama yang tidak pernah dia dengar. Di
tengah kampung, sebuah kubur baru muncul tanpa
tanda. Dari lubang tanah itu, keluar empat
tangkai bunga cempaka putih, terangkai di tangan
boneka kayu yang menyerupai dirinya sendiri.
Ia menyerah. Di tengah malam, Anuar membawa batu
bulan ke kubur Siti Aminah. Dia meletakkannya di
atas tanah, lalu berlutut. Tidak ada doa. Hanya
diam. Dan tanah itu berdarah — bukan darah
manusia, tapi air sungai yang berwarna merah tua,
mengalir dari bawah tanah menuju arah kota.
Keesokan hari, semua orang di desa kembali
normal. Anuar hilang. Hanya satu dokumen ditemui
di meja rumahnya: surat nikah kontrak yang
ditandatangani dua tahun sebelumnya dengan
seorang wanita yang tidak pernah dia kenali. Di
belakang surat itu, tulisan tangan kecil: "Aku
tak marah. Aku dah mati."
Batu bulan tidak ditemui lagi. Tapi setiap tahun
pada bulan Syawal, di kampung Sungai Rambai,
seseorang akan melihat bayangan lelaki berbaju
putih yang berdiri di tepi sungai, menatap ke
arah yang sama seperti Anuar dulu. Dan sungai
itu, sejak itu, tak pernah kering.


