Kampung Sungai Puteh dulu hanya pohon getah dan

sawah. Kini, bumi runtuh di tengah malam, dan

dari celah tanah tumbuh batu hitam berbentuk

kepala kuda—dari sana muncul makhluk berbulu api

yang berkaki empat dan mata merah. Orangorang

bersujud, tapi takut. Mereka menyebutnya “Naga

Dalam Tanah” — dan siapa yang menyentuh batu itu

akan jadi miliknya dalam dua jam.

Lelaki itu, Anwar, dipilih sebagai penjaga batu

itu sejak lahir—menurut warisan keluarga yang

sudah tiada lagi. Ia tidak boleh menyentuh batu

itu sendiri. Jika ia melakukannya, nyawanya akan

hilang dalam waktu tujuh hari. Itu hukum yang

dibuat semasa darurat, ketika pendudukan Jepun

masih berkuasa dan rakyat mencipta perjanjian

dengan bumi agar tidak ditelan. Hukum itu kini

menjadi kebenaran: orang yang sentuh batu akan

jadi alat bagi makhluk itu.

Sahabat setianya, Jali, datang dari bandar

dengan wajah pucat. Ia membawa surat dari ibunya

yang sakit parah—surat yang harus dibaca di

hadapan batu, supaya nyawanya tidak diserap.

Tapi jika Jali berdiri di dekat batu lebih dari

lima minit, ia akan dikutuk sebagai “pemakan

jiwa” dan dikira mati dalam tiga hari. Itu hukum

baru: orang yang datang untuk menyelamatkan

orang lain justru menjadi korban.

Anwar berjalan di atas tanah retak, membawa air

suci dari sungai tua. Ia meletakkan botol air di

atas batu—percubaan terakhir untuk menunda

kemunculan makhluk. Api mulai menjalar dari

celah tanah. Jali menangis, berbisik sesuatu

yang tidak bisa didengar—mungkin doa, mungkin

nama ibunya.

Anwar menarik Jali jauh dari batu. Tapi satu

langkah saja, dan tanah di belakang mereka

runtuh. Batu itu bergetar. Makhluk itu muncul—

tidak seperti kuda biasa, tetapi seperti

bayangan yang diliputi api dan bulu tanah. Anwar

menahan napas. Ia tahu: kalau ia tinggalkan Jali,

maka ia akan mati sendiri. Kalau ia pertahankan

Jali, maka batu itu akan bebas.

Ia berlari ke arah Jali. Tangannya menekan dada

sahabatnya. Ia menutup mata. Dari lubang tanah,

angin menerbangkan daun kering. Semua suara

lenyap.

Esok pagi, kampung sunyi. Batu hitam itu hilang.

Hanya sebuah tanah rata, ditanami padi baru.

Jali bangun di rumah orang tua, ditemani oleh

penghuni kampung. Ia tidak ingat apaapa. Tapi di

gundukan tanah di belakang rumah, ada goresan

tulisan kecil: “Aku yang korbankan diriku.”

Dan dari bawah tanah, sesekali terdengar suara

kuda yang berlari.