Kampung Bintang Hilir diliputi kabut pagi 1953.

Tanah meratah tumbuh padi, tapi tanah itu

sendiri tidak lagi milik orangorang tua—kini

dijaga oleh bayangan Jepun yang masih menyusup

lewat jamuan di bawah pohon getah. Setiap malam,

jalan desa menjadi batas antara dunia nyata dan

dunia yang tak boleh disebut.

Di rumah kayu berlantai tanah, seorang lelaki

berpakaian hitam menyimpan sebilah pisau dari

zaman kuno—dari zaman sebelum Darurat. Pisau itu

tidak digunakan untuk berburu. Ia hanya

diletakkan di atas meja, dekat tempat tidur

isterinya, sebagai simbol: jika dia berani

melanggar larangan adat, maka nanti akan ada

darah di atas tanah.

Isterinya, Salmah, telah menghadiri upacara

pemulihan jiwa dua minggu berturutturut. Dia

tidak percaya pada sihir, tetapi ketika suaminya

tibatiba terbangun dari tidur dan berkata, “Aku

sudah mati,” tanpa bernafas, dia tahu sesuatu

telah berubah. Bukan sekadar alam bawah sadar—

tapi alam yang dipimpin oleh entiti yang lebih

tua dari negeri ini.

Saat suaminya ditemui di tepi sawah, tubuhnya

terbaring menghadap bulan. Dada terbelah—sebuah

luka berbentuk bulan celah, seperti bekas

goresan dari jari gaib. Tidak ada darah. Hanya

kulit yang terbuka seperti buku lama dibuka

secara paksa.

Pihak polis Jepun datang. Mereka mencatat

sebagai ‘kecelakaan ritual’—tapi mereka tidak

mengambil gambar. Mereka hanya membawa satu

benda: sebuah keris kecil dari kain putih.

Salmah ditangkap. Bukan karena bersalah—tapi

karena dia satusatunya yang tahu cara membaca

urutan tanda di kubur kuno di hutan belakang

desa. Adat menyatakan bahwa wanita yang mengenal

rahsia kematian lelaki akan menjadi pengganti

jiwa itu—dan kalau dia gagal, maka semua

keluarga di kampung akan menjadi korban.

Dia diberi waktu tiga hari.

Di hari ketiga, dia menemui bomoh misteri yang

tinggal di gubuk berbumbung daun nipah. Wanita

itu tidak berbicara. Dia hanya menunjukkan

sebuah cermin retak—dan di dalamnya, wajah

suaminya tersenyum, meski tubuhnya sudah dingin

selama lima hari.

Salmah memegang pisau. Tangan gemetar. Namun dia

tahu: jika dia membunuh orang yang bersembunyi

di balik kematiannya—maka dia akan menjadi salah

satu dari mereka. Dan jika dia tidak membunuh,

maka dia akan menjadi mangsa selamanya.

Pagi hari berikutnya, rumah bomoh dibakar. Tidak

ada mayat. Hanya abu dan sebuah kain putih—

tertulis nama Salmah, dicorak dengan bulan.

Di kampung, tiangtiang listrik mulai menggeletar.

Pohon getah menyerap cahaya bulan. Dan semua

orang tibatiba ingat sesuatu yang tidak pernah

mereka alami: bahwa setiap keluarga di sini

memiliki pembunuh yang dulu mati dalam gelombang

darurat.

Salmah tidak pergi ke manamana. Dia duduk di

depan rumah, memandang bulan.

Di tangannya, pisau itu sudah tidak ada.

Tapi di dada, luka bulan muncul—dan darahnya

tidak merah. Itu hitam, seperti tinta.

Ini bukan akhir. Ini adalah awal dari apa yang

akan diingat selamanya.