1947, kampung di pedalaman Perak. Hujan lebat

mencuci jalan tanah merah, membasahi batu nisan

baru yang belum dikorek. Seorang lelaki muda

ditemukan terbaring di bawah pokok getah, tanpa

nama, tanpa pakaian kecuali baju seragam

penjajah Jepun yang sudah lapuk. Kepalanya

berdarah, tetapi hidup — dan tidak tahu siapa

dia.

Ketika warga kampung membawanya pulang, mereka

mengenal pasti bekas jari di tangan kanannya:

dua garis luka parut dari sarung tangan kain

hitam. Tanda orang yang pernah menjaga sembilan

sumbangan bagi penghulu desa — seorang pendeta

yang terlibat dalam perlawanan terhadap pasukan

British di bawah bayangbayang Darurat.

Dia dibawa ke rumah kakeknya, tempat hanya ada

dua benda: sebuah gambar lama yang terbakar

separuh, dan kotak kayu berisi surat berita dari

1942. Surat itu ditulis oleh seorang wanita,

satusatunya saudara perempuan dari kakeknya,

yang menyatakan: “Aku tak mahu anakmu menjadi

pengganti untuk kebenaran yang telah dipotong.”

Pada hari ketiga, lelaki itu bangun. Dia tidak

ingat namanya, tetapi mengenali bentuk senyuman

ibu yang menangis saat melihatnya. Ibu itu

menyerahkan sebuah kalung emas berbentuk bulan,

dengan ukiran kecil: “Tidak akan kau tinggalkan

lagi.”

Harihari berlalu. Dia belajar membaca, menulis,

dan mengejar kenangan yang tidak mungkin. Namun

setiap kali mendekati hutan belakang rumah,

kepala berdenyut seperti dihantam. Di sana,

terdapat sebuah lubang tanah berisi tulang

manusia dan sebuah surat terakhir yang tidak

ditandatangani — bertulisan tangan sama seperti

surat ibunya.

Di malam hari, warga kampung mulai menyalakan

lilin di depan gerbang. Mereka menyembah tanah,

bukan karena agama, tapi karena adat: jika

seseorang mati dalam masa Darurat tanpa

pengakuan resmi, arwahnya tidak boleh masuk ke

alam lain. Dan mereka percaya, lelaki itu adalah

salah satu dari lima yang tidak terdaftar.

Pada bulan keempat, dia menemukan sebotol minyak

berwarna kehitaman di bawah lantai dapur. Ketika

digunakan, ia membuat semua lampu di kampung

padam selama tujuh jam. Di waktu gelap itu,

bayangbayang di dinding bergerak sendiri —

membentuk wajah seorang gadis, yang pernah

dilihatnya dalam mimpi.

Ia tidak mahu mengetahui siapa dia. Tapi pada

pagi hari, dia berdiri di tepi sungai, menangis

tanpa suara. Ia melihat dirinya sendiri dalam

air: wajah ibunya, tetapi mata ayahnya.

Lelaki itu kemudian mengambil pisau dapur,

menusuk jari telunjuknya, dan menulis nama di

atas batu nisan yang belum selesai. Bukan

namanya. Bukan nama ibunya. Tapi: “Anak yang tak

mahu dilupakan.”

Hari ini, kampung masih menyimpan kalung emas

itu di dalam peti besi di bawah tanah. Dan tiap

tahun, bila hujan turun deras, orangorang

berkumpul di depan nisan itu. Mereka tidak

bercakap. Mereka hanya diam. Hangat. Seperti api

yang tidak pernah padam.