Pada tahun 1947, kampung Taman Sari di Kelantan

berubah menjadi tempat sunyi yang diselimuti

isyarat tanpa suara: tiang listrik runtuh,

anakanak tidak masuk sekolah, dan orang tua

berkatakata tentang bayangbayang yang tidak

jelas. Masyarakat bersumpah pada adat lama:

siapa yang menggali kubur ibu tanpa izin, akan

dibawa ke hutan oleh "Suku Tiga Malam".

Di rumah besar itu, seorang wanita muda berusia

dua puluh tiga tahun, Hana, mengetuk batu bata

yang retak di ruang belakang. Di bawah tanah, ia

menemui kotak kayu yang dipenuhi dokumen dari

zaman pendudukan Jepun — suratsurat dari seorang

pegawai militer yang menyebut nama ibunya

sebagai penyelundup bahan peledak. Ibu Hana

bukan korban, tetapi pelaku. Dan dia mati di

tangan pasukan British kerana mencoba selamatkan

kawasan daripada pembakaran massal.

Ketika khabar tersebar, warga mendesak agar Hana

mengembalikan kotak itu ke tanah. Tapi dia sudah

membaca surat terakhir dari ibunya: “Kalau aku

mati, jangan biarkan kau jadi alat perang.”

Sejak itu, setiap malam, bunga mangkukku muncul

di atas kubur — tanpa biji, tanpa tanah, seperti

tanda bahawa jiwa ibu masih berdiri di sana.

Pada bulan Mei, Hana ditemukan berdiri di depan

kubur ibu, memegang pistol warisan. Waktu itu,

seorang pemimpin adil — bekas anggota gerila

yang kini kepala desa — datang membawa larangan:

"Kau tidak boleh berbuat apaapa. Amanah lebih

tinggi daripada dendam." Dia sendiri pernah

ditangkap kerana cuba membantu orangorang Melayu

lari dari pemerintahan kolonial, dan tahu betapa

mahalnya harga kebenaran.

Hana mengangkat senjata. Bukan untuk menembak,

tapi untuk meletakkannya di atas tanah. Lalu dia

membuka kotak dan membakar semua dokumen di

tengah lapangan. Api merah membakar surat,

gambar, dan cap kertas — tetapi ketika api padam,

bunga mangkukku tumbuh dari abu. Satu. Berwarna

putih.

Dua hari kemudian, seorang lelaki muda yang dulu

dicintai Hana — anak seorang ketua masyarakat —

datang membawa satu buku doa. Dia berkata: "Aku

tahu kau marah. Tapi ini adalah tempat kita

kembali kepada iman." Hana tersenyum, tak

bernafas.

Akhirnya, dia duduk di bawah pokok beringin,

mengadap kubur ibu, dan menulis di buku harian:

“Aku tidak menang. Tapi aku bebas.”

Kampung Taman Sari kembali hidup. Pekerjaan baru

dimulakan. Anakanak sekolah kembali. Dan setiap

tahun, pada bulan Mei, bunga putih muncul di

atas tanah — bukan karena tanah yang subur, tapi

karena rasa yang telah dipersembahkan.