Kampung Tenggara, 1953. Hujan lebat membasahi
tanah merah yang sudah lama menghitam dari darah
dan asap. Jalan batu patah dipenuhi langkah kaki
bermusim, bukan orang biasa: para penjaga
matamata, pejuang gerilya, dan keluarga yang
sedang menunggu keputusan nasib. Di rumah tua
berlantai kayu, seorang wanita muda duduk di
sudut dapur, tangan menekan perutnya yang mulai
melengkung. Ia bukan isteri tetapi gundik — nama
disimpan dalam kotak besi, dikeluarkan hanya
ketika dibutuhkan.
Dari jendela, burung pipit terbang menjauh. Di
belakangnya, sebuah kubur terbuka untuk mayat
yang belum dikuburkan. Sistem baru—dengan polis
tentera, suruhan kerajaan Inggeris, dan
undangundang darurat—mengganti adat lama. Kini,
siapa pun yang mengandung tanpa nikah akan
dikenakan hukum langsung: diusir dari kampung,
atau dipaksa menyerahkan bayi kepada badan
sosial. Tiada tempat bagi ibu tunggal. Tiada
tempat bagi kebenaran.
Wanita itu tidak menangis. Ia menulis di atas
kertas kering, katakata yang tak pernah
diucapkan: “Anakku tidak boleh mati.” Maka ia
menyembunyikan bayinya di bawah lapisan tanah di
bawah lantai dapur, menggunakan bekas periuk
tembikar dan daun pisang kering sebagai
pelindung. Air mata jatuh ke tanah, tapi tak
sampai ke anak.
Empat bulan berlalu. Suatu malam, peti surat
terbuka sendiri. Surat daripada pegawai polis
membawa notis pemindahan ke FELDA baru. Rumah
itu akan dibersihkan. Ia harus pergi. Tapi jika
anaknya ditemukan, ia akan dihantar ke pusat
pemulihan, di mana budak perempuan dibesarkan
tanpa kenangan keluarga.
Pada hari terakhir, wanita itu mengambil alat
pemotong rumput, membongkar lantai. Bayi itu
masih hidup. Kulitnya bersinar seperti minyak di
air. Matanya terbuka—tak menangis, tapi
tersenyum.
Ia membawa bayi itu ke tempat tersembunyi di
bawah pokok getah tua, lalu menarik nafas
panjang. Di sana, tiada suruhan, tiada hukum.
Hanya tanah, cahaya bulan, dan senyuman yang tak
pernah terdengar.
Di pagi esok, tanah di bawah pokok itu retak.
Akar getah memecah, mencipta celah. Dari sana,
tumbuh bunga putih—bukan bunga biasa. Daunnya
bergetar sendiri saat angin berhembus.
Orangorang kampung berkata: "Itu bunga yang
muncul dari tanah yang telah kehilangan."
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun,
suara kecil terdengar. Bukan tangisan. Tidak
menjerit. Tapi tawa.
Lima belas tahun kemudian, gadis itu tumbuh
tinggi, rambut hitam mengalir seperti air sungai.
Ia masuk sekolah di bandar, pakai baju seragam.
Ketika ditanya siapa ibunya, ia menjawab: “Aku
lahir dari tanah yang tidak ingin melupakan.”
Di balik semua perubahan—darurat, kemerdekaan,
peralihan kampung ke bandar—ada satu hal yang
tak bisa dirampas: kehidupan yang bangkit dari
kegelapan, tanpa suara, tanpa nama, tapi penuh
dengan tawa.


