Kampung Bukit Raya, 1952 — hujan gerimis
membasahi tanah merah setelah empat hari tidak
turun hujan. Ibu kampung berjalan dengan langkah
ringan melewati jalan batu, muka tertunduk
seperti biasa, tapi matanya menatap ke arah
rumah besar tempat tuan tanah tinggal. Di sana,
seorang gadis muda dipaksa menandatangani surat
nikah gantung: janji untuk menikah dengan lelaki
tua yang sudah punya lima isteri, atas nama
‘perjanjian keluarga’ dan ‘keharusan menjaga
keturunan’.
Gundik itu — Laila — duduk di belakang dapur,
mengepil daun nipah, tetapi jarijarinya gemetar.
Ia tahu, jika dia melawan, akan dikatakan
‘menggangu tradisi’, dan pihakpihak berkuasa
akan datang menyeretnya ke balai polis desa, di
mana dia akan dibawa ke pejabat khas kerajaan
untuk ‘diperbaiki’. Sistem zaman klasik yang
dulu membolehkan kaum perempuan hidup dalam
silau kebajikan diraja kini berubah menjadi alat
penindasan — bukan lagi benteng adat, tapi
jaringan kekuasaan yang mengawasi setiap langkah
wanita.
Di tengah malam, Laila membuka peti lama milik
neneknya. Dalam kain sarung, tersembunyi surat
dari seorang pemuda dari kampung tetangga. Surat
itu ditulis sebelum pendudukan Jepun, namun
belum pernah dikirim. Isinya hanya dua ayat:
“Aku masih ingat wajahmu di bawah pokok durian.”
Tidak ada tanda tangan. Tapi Laila tahu siapa
pemilik suara itu.
Pagi itu, sebuah helikopter militer mendarat di
padang belakang kampung. Kumpulan pasukan
Darurat menyerbu rumah tuan tanah. Mereka
mencari senjata rahasia yang disebut “darah
abadi” — legenda yang berkembang selepas
peperangan, tentang minuman dari akar tanaman
yang boleh membuat orang lupa kenangan. Walaupun
tak percaya, sistem politik baru kini mewajibkan
semua rakyat melapor jika mereka mendengar
cerita seperti itu. Siapa yang menyangkal,
dikira penyokong separatis.
Laila berdiri di depan pintu rumah, menatap
dokumen nikah yang telah diserahkan. Dia
menyerahkan surat itu kepada seorang pegawai
tanpa berbicara. Dalam detik itu, mata perempuan
itu berkacakaca, tetapi mulutnya diam.
Hari berikutnya, kampung dibersihkan. Semua
dokumen berkaitan nikah gantung dibakar di
tengah padang. Orangorang berbaris mengenakan
baju putih, memegang lilin. Mereka tidak
menangis. Tapi Laila berjalan sendirian menuju
jalan batu, memeluk surat dari masa lalu.
Tidak ada pernikahan. Tidak ada perpisahan.
Tidak ada pelarian. Hanya seorang wanita yang
tersisa, berdiri di antara dua dunia yang
samasama runtuh.
Dan di bawah tanah, bunga berwarna ungu mulai
muncul — tumbuh dari tempat di mana ia dulu
menangis.


